Langsung ke konten utama

Dasar-dasar dan Sejarah Perkembangan Ilmu Kalam

DASAR-DASAR DAN SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU KALAM



Sebelum mengenal ilmu kalam, 
Sebenarnya apa sih Ilmu Kalam itu? Lantas apa dasar-dasar dan bukti eksistensi dari ilmu kalam tersebut?

Nah, Ilmu kalam itu merupakan objek kajian berupa ilmu pengetahuan dalam agama
Islam yang dikaji dengan menggunakan dasar berfikir berupa logika dan dasar kepercayaan-kepercayaaan pribadi atau suatu golongan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan akan eksistensi atau keberadaan Tuhan bagaimana? Tuhan seperti apa wujudnya? dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya yang berhubungan dengan
Tuhan.

Bagi orang yang beriman bukti mengenai eksistensi dan segala hal yang menyangkut dengan Tuhan yang ada dalam AlQur’an, hadits, dan ucapan sahabat yang mendengar langsung perkataan Nabi dan lain sebagainya sudah cukup. Namun, tatkala masalah ini dihadapkan pada dunia yang lebih luas dan terbuka maka dalil-dalil naqli tersebut tidak begitu berperan. Sebab tidak semua orang meyakini kebenaran AlQur’an dan beriman kepada-Nya. Karenanya diperlukan lagi interpretasi akal terhadap dalil yang sudah ada dalam AlQur’an tersebut untuk menjelaskannya.

Kemudian sejarah perkembangan ilmu Kalam sendiri sudah melalu beberapa fase,dari masa ke masa, yaitu :

~Masa Nabi Muhammad SAW~

Persoalan IlmuKalam pada masa Rasulullah dapat dilihat dalam bentuk  ajakan Rasulullah kepada umatnya untuk bertauhid, melarang perbuatan syirik, meyakini kenabian dan hal-hal yang berhubungan dengan hal itu, menyinggung
golongan-golongan agama yang ada pada masa itu yang mempunyai kepercayaan tidak benar. Sembari memaparkan argumen-argumen untuk meneguhkan keimanan umatnya dan membantah alasan-alasan orang yang inkar.


~Masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq~

Sebagai khalifah pertama, Abu Bakar dihadapkan pada keadaan masyarakat yang kacau sepeninggal Rasulullah SAW. Banyak yang memilih kembali pada keyakinan lamanya (murtad). Bermunculan orang-orang yang mengaku nabi (nabipalsu), dan orang-orang yang enggan yang membayar zakat. Meski terjadi perbedaan pendapat tentang tindakan yang akan dilakukan dalam menghadapi kesulitan tersebut, namun kebesaran jiwa dan ketabahan hatinya tetap kelihatan. Beliau bersumpah akan memerangi semua golongan yang menyimpang kebenaran. Kekuasaan yang dijalankan pada masa Abu Bakar sebagaimana pada masa Rasulullah, bersifat sentral, kekuasaan legilslatif, eksekutif, dan yudikatif berpusat ditangan khalifah


~ Masa Khalifah Umar bin Khattab ~


Pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab, wilayah islam sudah meliputi Jazirah, Arab, Palestina, Syiria, serta sebagian besar wilayah Persia dan Mesir. Karena  daerah terjadi begitu cepat, Umar bin Khattab segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi pemerintahan persia, yaitu diatur menjadi beberapa wilayah, seperti Mekkah, Madinah, Syiria, Jazirah, Basrah, Kufah, dan Palestina. Kemudian beliau juga menertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak. 

~ Masa Utsman bin Affan~

Pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan mengalami masa kemakmuran dan keberhasilan dalam beberapa tahun pertama. Beliau melanjutkan kebijakan- kebijakan Khalifah Umar. Pada separuh terakhir masa pemerintahannya, muncul kekecewaan dan ketidakpuasan dikalangan masyarakat, karena beliau mulai mengambil kebijakan yang berbeda dari sebelumnya. Utsman bin Affan mengangkat keluarganya (Bani Umayyah) pada kedudukan yang tinggi. Beliau mengadakan penyempurnaan pembagian kekuasaan pemerintahan. Utsman bin Affan menekankan sistem kekuasaan pusat yang  menguasai seluruh pendapatan provinsi dan menetapkan seoarang juru hitung dari keluarganya sendiri. 
Sistem adminisi pemerintah yang lebih condong nepotisme ini, menimbulkan kekacauan politik yang mencapai klimaks pada masa pemerintahan Ali bin Abi Talib sehingga terjadi perang saudara dan mengakibatkan perpecahan umat.Perpecahan politik ini menimbulkan akibat munculnya berbagai pemikiran teologi yang berkembang pada perdebatan-perdebatan panjang dan menimbulkan berbagai paham serta penyimpangan-penyimpangan.



~Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib~

Pada masa pemerintahannya, Ali bin Abi Thalib menghadapi penyerangan Talhah, Zubair, dan Aisyah, yang dikenal dengan perang Jamal. Mereka menyerang Ali bin Abi Thalib karena tidak mau menghukum para pembunuh Utsman. Mereka menuntut keadilan atas darah Utsman yang telah ditumpahkan secara dzalim. Bersamaan dengan itu, kebijakan-kebijakan Ali bin Abi Thalib juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur Damaskus, yaitu Muawiyah yang didukung oleh sejumlah mantan pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan mereka.Pertempuran ini dikenal dengan perang Siffin. Perang ini diakhiri dengan Tahkim (arbitrase), tetapi ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan 
menyebabkan timbulnya golongan ketiga, yaitu Khawarij(orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Mereka berpendapat bahwa persoalan saat itu tidak dapat diputuskan dengan tahkim. Keputusan hanya datang dari Allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam AlQur’an.




~Masa Dinasti Umayyah~

Pada masa ini perbincangan masalah qadar dan masalah istith’ah yang dipelopori oleh Ma’badal-Juhanics.(Qadariyah).Di lain pihak ada yang meniadakan qodrat dan iradat manusia yang di tokohi oleh Jaham bin Safwan (Jabariyah). Kemudian timbul pendapat yang lain dan berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar bukanlah kafir dan bukan pula mukmin. Pendapat ini dipelopori oleh Washil bin ‘Atha yang kemudian menjadi aliran Muktazilah.


~Masa Dinasti Abbasiyah~


Puncak kejayaan Dinasti Abbasiyah terjadi pada masa khalifah Harrun Ar- Rasyid dan Anaknya Al Makmun. Ketika Ar Rasyid memerintahkan negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin walaupun ada juga pemberontakan dan wilayahnya mulai dari Afrika Utara hingga ke India, pada masanya hidup pula para filsuf,pujangga ahli baca Al-Qur’an dan para ulama dibidang Agama. Didirikan perpustakaan yang diberi nama Baitul Hikmah, didalamnya orang terdapat membaca, menulis, dan berdiskusi. Dan pada masanya berkembang Ilmu pengetahuan agama,seperti al-qur’an, qiraat, hadits, fiqh, ilmu kalam, aksara dan sastra. Empat madzhab tumbuh dan berkembang pada masa dinasti Abbasiyah. 
Di samping itu pula ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geografi, aljabar, aritmatika, dll. Masuk ke dalam Islam melalui terjemahan dari bahasa Yunani Persia kedalam bahasa Arab,disamping bahasa India.


Setelah mengalami perkembangan-perkembangan yang signifikan, tentunya semua itu tak lepas dari pro-kontra terhadap ilmu kalam, diantaranya yaitu :

Menurut Harun Nasution, kemunculan persoalan kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa Utsman bin Affan yang berbuntut pada penolakan Mu’awiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Talib.

Kemudian, Harun lebih lanjut melihat bahwa persoalan kalam yang pertama kali muncul adalah persoalaan siapa yang kafir. Dalam arti siapa yang telah keluar dari islam dan siapa yang masih tetap dalam islam.

Sampai saat ini terjadi prokontra tentang Ilmu Kalam. Sebagian mengatakan ilmu ini tidak perlu dipelajari, sedang lainnya mengatakan perlu. Tentu untuk mendudukkan persoalan tersebut butuh kajian yang mendalam tentang ilmu satu ini. Mulai dari sejarahnya sampai manfaatnya. Lebih jauh perdebatan sengit antara para ulama dan tokoh-tokoh teologi timbul akibat perbedaan dalam menyikapi sifat-sifat Allah. Selain itu juga masuknya nilai-niai filsafat non Islam terutama dari Yunani. Dalam perkembangannya mazhab Asy`ariyah menjadi mazhab yang paling banyak dipeluk umat Islam secara tradisional dan turun temurun didunia Islam. Ciri khas darinya adalah penilaian terhadap ilmu ini didasarkan pada kajian ilmiah bukan karena suka atau tidak suka.

Sehingga dapat disimpulkan, bahwasanya Permasalahan ilmu kalam berawal dari persoalan-persoalan kepemimpinan setelah wafatnya nabi Muhammad, dan setiap kelompok menganggap pemimpin merekalah yang berhak menduduki jabatan sebagai khalifah pada masa itu. Hal itu mulai mencolok ketika pergantian khalifah dari Utsman bin Affan kepada Ali bin Abi Thalib. Dari setiap perselisihan memunculkan aliran-aliran baru dan menganggap merekalah yang paling benar dengan berdasarkan pemahaman-pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits.

Wallahu a'lam bisshowaab



                       Klaten, 24 Oktober 2020,18:22 WIB
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konsep Tentang Iman,Kufur,Syirik, dan Nifaq

Konsep tentang Iman, Kufur, Syirik, dan Nifaq Pada dasarnya, kita sebagai umat islam harus mempunyai dua dimensi yaitu berupa aqidah keyakinan dan sesuatu yang diamalkan atau amaliyah,karna sejatinya amal perbuatan tersebut merupakan sebuah implementasi. Keimanan dalam islam merupakan pondasi yang diatasnya berdiri syariat-syariat islam. Keimanan kepada Allah harus terus dipupuk agar semakin kokoh dan kuat, karena ketika iman kita goyah akan menyeret kita pada kekufuran.  Sedangkan Kekufuran apabila tertanam dalam jiwa kita akan menjerumuskan kepada perbuatan yang menyimpang yaitu syirik dan nifaq. Kufur dan nifaq termasuk salah satu yang membatalkan tauhid seseorang dan mengurangi kesempurnaan iman seseorang. Oleh karena itu, mari kita usik kembali mengenai iman, kufur, syirik, nifaq. Berikut penjelasannya 1. IMAN Kata iman secara bahasa berasal dari bahasa arab yang berarti percaya. Dalam Al-Quran kata iman selalu dikaitkan dengan perbuatan baik dan melaksanakan hukum islam,...

Mengenal Lebih Dalam Tentang Tauhid

Apa itu Tauhid? Mengenal tauhid merupakan hal yang paling urgen dalam Agama Islam. Tauhid mengambil peran penting dalam membentuk pribadi-pribadi tangguh, juga sebagai inti Aqidah Islamiyah. Kalimat tauhid atau yang lebih dikenal dengan kalimat syahadat begitu masyhur dikalangan umat Islam. Seorang muslim selalu melafalkan kalimat itu dalam keseharian paling tidak dalam sholat lima waktu. Namun, semakin kemari semakin banyak penyimpangan yang terjadi di kalangan umat Islam. Lambat laun akan menyadarkan kita bahwa pentingnya peran agama Islam yang tidak hanya menurus ukhrawi saja, namun juga dalam urusan duniawi. Oleh karena itu, mari kita telusuri secara mendalam mengenai tauhid. Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita...

Tentang Aku

  MY BIOGRAFI Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Hai, Tak kenal maka tak sayang bukan? Oleh karena itu, perkenalkan nama saya Samrotul Mawaddah atau biasa dipanggil Samrotul oleh orang-orang disekitar saya. Saya lahir di Jepara, 04 Januari 2002. Saya tinggal di Klaten dan saya memiliki hobi mendengarkan musik. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara, buah dari pasangan Ashari dan Nur Safi'ah. Sejak kecil, orang tua saya selalu mengajari saya untuk selalu taat beribadah, selalu jujur, dan berbuat baik kepada setiap orang. Ketika berumur 7 tahun, saya mulai bersekolah di MI Jimbung dekat rumah saya, kemudian setelah lulus saya melanjutkan ke Pondok Pesantren Al Imdad Bantul Yogyakarta selama 6 tahun hingga SMA dan kemudian lulus di tahun 2020 ini. Sebenarnya, sejak saya menginjak kelas 4 SD, saya sudah menyukai pelajaran bahasa Arab, hingga kemudian pada saat saya kelas VIII SMP, saya mulai memberanikan diri untuk mengikuti lomba-lomba pidato yang diadakan pondok pes...